MENGGULUNG TRAFO

Pertama sekali, trafo lama atau trafo bekas direndam dalam thinner selama 2 hari 2 malam. Setelah itu inti besi trafo akan dapat dilepas dengan mudah, cukup dengan bantuan tang dan martil kecil. 
Setelah semua inti besi dilepas, pekerjaan selanjutnya adalah melepaskan kawat email dari tempat gulungannya. Kemudian kawat email tersebut diluruskan atau dirapikan kembali untuk dapat digulung ulang.  

 

Gulungan kawat primer biasanya memiliki jumlah lilitan yang jauh lebih banyak dari jumlah lilitan sekunder. Juga tebal kawat llilitan primer lebih kecil dari tebal kawat lilitan sekunder.
Inti besi yang sudah dicabut dari trafo biasanya berbentuk huruf E dan I.  

 

Kaki tengah dan jarak kaki perlu diukur untuk membuat tempat menggulung kawat kembali
Saya menggunakan triplex tipis yang ukuran 2mm sebagai bahan membetuk tempat menggulung, karena mudah dalam pengerjaannya.  

 Setelah jadi, bentuk tempat lilitan kawat adalah seperti pada gambar disamping.
Sebelum kawat dilillit, perlu di test dulu apakah ukurannya sudah tepat dengan inti besi E dan I. Hal ini diperlukan agar pada saat pemasangan inti besi tidak terganggu dengan lebar dan panjang tempat gulungan kawat. Luas penampang tempat gulungan adalah lebar kaki tengah inti besi E dikalikan dengan tebal susunan seluruh inti besi. Dalam hal ini adalah 5 cm x 5.5 cm = 27.5 cm^2.  

 

Tabel ini dapat dipergunakan untuk memlih tebal kawat yang diperlukan untuk keperluan lilitan primer maupun lilitan sekunder. Tabel seperti ini dapat diperoleh dengan mudah melalui google.

Saya masih menggunakan kawat lama, karena kawat lama masih bagus, saya membuka trafo dan melilitnya ulang hanya karena tegangan sekundernya tidak sesuai dengan tegangan yang saya perlukan. Tapi perlu diketahu bahwa untuk menentukan jumlah lilitan dapat dipakai aturan umum untuk frekwensi jala-jala listrik 50 Hz adalah 50 / luas penampang tempat gulungan yaitu 48 / 27.5 = 1.745 lilitan per volt.

 

 

Sehingga untuk lilitan primer untuk tegangan 220 volt, diperlukan jumlah lilita sebanyak 1.745 x 220 = 385 lilitan, cuma masalahnya di daerah saya tegangan listrik bisa mencapai 240 volt, sehingga saya menggunakan lilitan primer sebanyak 420 lillitan.
Saya memerlukan tegangan sekunder 24 volt, dan untuk itu saya melilit kawat sekunder sebanyak 42 lilitan, tetapi saya melilitnya sebanyak 50 lilitan, untuk mengantisipasi kekurangan tegangan pada saat trafo diberi beban maksimum.  


Setelah lilitan primer dan sekunder selesai dililit, inti besi kembali disisipkan kedalam tempat gulungan kawat sehingga akan kembali terlihat sama seperti trafo semula, hanya saja tegangan sekundernya menjadi tegangan sekunder yang saya butuhkan. selanjutnya direndam sebentar dalam larutan serlak untuk mengikat inti besi dengan baik juga mengisi kekosongan pada bagian lilitan kawat, kemudian ditiriskan dan ditunggu sampai kering. Hal ini diperlukan agar tidak ada dengung pada saat trafo dihubungkan ke sumber jala-jala listrik.
Trafo sudah kering dan siap digunakan sesuai dengan kebutuhan yang direncanakan.  

 

Selanjutnya dipasang dioda jembatan dan kapasitor.

Rangkaian dasar untuk mengubah arus ac menjadi arus dc adalah dengan menggunakan dioda jembatan, dan kapasitor. Besarnya kapasitor yang diperlukan adalah 2,200 uF untuk besar arus output 1 Ampere. Jika diperlukan arus sebesar 16 Ampere maka besarnya kapasitor adalah 35,200 uF. Untuk kapasitor sebesar itu harganya sangat mahal, sehingga saya memilih menggunakan 16 buah kapasitor 2,200 uF dipasang parallel.

Tegangan dc yang keluar pada titik + dan - adalah VRMS * 1.4142, pada trafo diatas VRMS adalah 24 volt, tegangan ini adalah tegangan pada kawat sekunder trafo dan yang dibaca pada multitester sebelum dioda jembatan dipasang. Sehinga VDC = 24 * 1.4142 = 34 Volt.